Seruan Mendesak PBB di COP28: Selamatkan Krisis Iklim dan Alam, Masa Depan Bumi di Tangan Kita!

Seruan Mendesak PBB di COP28: Selamatkan Krisis Iklim dan Alam, Masa Depan Bumi di Tangan Kita!

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, di COP28 menyerukan bahwa krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati adalah dua sisi dari masalah yang sama, didorong oleh konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan.

Ari Pratama Ari Pratama
2026-Feb-15 10 min Read
Di tengah hiruk pikuk perdebatan global dan janji-janji ambisius di Konferensi Para Pihak ke-28 (COP28) di Dubai, sebuah seruan yang menggema dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menembus kebisingan. Bukan hanya tentang satu krisis, melainkan dua krisis kembar yang saling terkait erat, mengancam fondasi kehidupan di Bumi: krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dengan tegas menyatakan bahwa kedua ancaman ini bukanlah masalah terpisah, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama.

Seruan ini, yang disampaikan dalam acara ‘Moment for Nature’ di COP28, bukan sekadar peringatan, melainkan cetak biru aksi mendesak untuk menyelamatkan planet kita sebelum terlambat. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa krisis ini dianggap satu kesatuan, apa saja pilar-pilar aksi yang diusulkan PBB, dan bagaimana kita semua memiliki peran krusial dalam pertempuran untuk masa depan Bumi.

Krisis Kembar: Menyatukan Perjuangan Iklim dan Biodiversitas


Selama beberapa dekade, upaya global untuk mengatasi perubahan iklim dan melindungi keanekaragaman hayati seringkali berjalan secara terpisah. Namun, Guterres menegaskan bahwa pendekatan ini sudah tidak relevan dan tidak efektif. Ia menyoroti bagaimana aktivitas manusia—mulai dari deforestasi yang brutal untuk lahan pertanian dan perkebunan, polusi plastik dan kimia yang mencemari lautan kita, hingga ekspansi industri yang merusak ekosistem vital—secara bersamaan memicu pemanasan global dan hilangnya spesies dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Krisis iklim mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati melalui perubahan pola cuaca ekstrem, kenaikan permukaan air laut, dan pengasaman laut yang menghancurkan terumbu karang. Sebaliknya, hilangnya keanekaragaman hayati, seperti deforestasi hutan hujan, melemahkan kemampuan alam untuk menyerap karbon dioksida, yang pada gilirannya memperburuk perubahan iklim. Hutan yang ditebang tidak hanya melepaskan karbon ke atmosfer, tetapi juga menghancurkan habitat jutaan spesies, mengganggu siklus air, dan meningkatkan risiko bencana alam. Lautan yang menghangat karena emisi gas rumah kaca juga mengalami pengasaman, memusnahkan terumbu karang yang menjadi rumah bagi seperempat kehidupan laut dan mengancam pasokan pangan global.

Ini adalah lingkaran setan yang harus dihentikan. Guterres menekankan bahwa kita tidak bisa menyelamatkan iklim tanpa menyelamatkan alam, dan kita tidak bisa menyelamatkan alam tanpa mengatasi akar penyebab perubahan iklim. Keduanya adalah pertempuran yang harus dimenangkan secara bersamaan.

Mengapa COP28 Menjadi Titik Balik?


COP28 di Dubai, yang awalnya fokus pada target iklim, kini menjadi panggung penting untuk menyatukan narasi iklim dan alam. Ini adalah kesempatan emas bagi para pemimpin dunia untuk menunjukkan komitmen nyata mereka. Target mempertahankan pemanasan global di bawah 1.5 derajat Celcius, yang diamanatkan oleh Perjanjian Paris, kini terancam serius oleh laju emisi gas rumah kaca yang terus meningkat. Bersamaan dengan itu, target global untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030, yang ditetapkan dalam Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, juga memerlukan dorongan yang signifikan dan pendanaan yang substansial.

Guterres menyerukan agar keputusan-keputusan yang diambil di COP28 tidak hanya mengatasi emisi secara parsial, tetapi juga secara fundamental mengubah hubungan kita dengan alam. Kegagalan di salah satu lini akan secara otomatis menggagalkan upaya di lini lainnya, menciptakan lingkaran setan kehancuran yang tak terhentikan. Para pemimpin memiliki kewajiban moral dan praktis untuk memanfaatkan momen ini demi kepentingan umat manusia dan semua kehidupan di Bumi.

Lima Pilar Aksi untuk Penyelamatan Bumi: Road Map dari PBB


Untuk mengatasi krisis kembar ini, PBB menggarisbawahi lima bidang aksi krusial yang membutuhkan perhatian dan implementasi segera:

1. Percepat Aksi Iklim: Lepas dari Cengkraman Fosil


Ini adalah inti dari perjuangan iklim global. Guterres menekankan perlunya penghapusan bertahap bahan bakar fosil—batubara, minyak, dan gas—yang merupakan penyumbang utama emisi karbon dioksida. Investasi besar-besaran harus dialihkan ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, yang tidak hanya bersih tetapi juga semakin ekonomis dan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja hijau. Selain itu, upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang sudah tak terhindarkan, seperti kekeringan, banjir, dan kenaikan permukaan air laut, juga harus dipercepat, terutama di negara-negara yang paling rentan dan kurang memiliki sumber daya.

2. Investasi pada Solusi Berbasis Alam: Melindungi Paru-paru Dunia


Alam bukan hanya korban dari aktivitas manusia, tetapi juga sekutu terkuat kita dalam mengatasi krisis iklim dan biodiversitas. Melindungi dan memulihkan ekosistem seperti hutan, lahan basah, rawa gambut, dan lautan dapat menyerap karbon secara alami dalam skala besar dan melindungi kita dari bencana alam. Solusi berbasis alam, seperti reforestasi massal, restorasi lahan gambut yang terdegradasi, dan pengelolaan hutan berkelanjutan, tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga meningkatkan keanekaragaman hayati, menjaga pasokan air bersih, dan mendukung mata pencarian jutaan masyarakat lokal. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan planet dan manusia.

3. Penyelarasan Aliran Keuangan: Uang Kita, Masa Depan Kita


Uang berbicara, dan saat ini, banyak aliran keuangan global masih mendukung aktivitas yang merusak lingkungan. PBB menyerukan pengalihan subsidi yang merugikan alam—misalnya, subsidi untuk industri bahan bakar fosil yang mencemari atau praktik pertanian yang merusak tanah—menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Skala pembiayaan untuk konservasi alam dan aksi iklim harus ditingkatkan secara drastis, baik dari sektor publik maupun swasta. Lembaga keuangan internasional, bank, dan investor harus menjadikan keberlanjutan sebagai inti dari setiap keputusan investasi mereka, memastikan bahwa modal mengalir ke solusi, bukan masalah.

4. Prioritas untuk Negara Berkembang: Keadilan Iklim Adalah Kunci


Negara-negara berkembang, yang seringkali paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim dan biodiversitas, justru yang paling menderita dampaknya. PBB mendesak negara-negara maju untuk memenuhi janji-janji mereka dalam hal pembiayaan iklim, termasuk dukungan untuk adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang tak terhindarkan, ganti rugi (Loss and Damage) untuk kerugian yang sudah terjadi, dan transfer teknologi hijau yang krusial. Keadilan iklim berarti memastikan bahwa semua negara memiliki kapasitas untuk melindungi diri mereka dan lingkungan mereka, tanpa harus mengorbankan pembangunan ekonomi yang esensial bagi kesejahteraan rakyat mereka.

5. Memberdayakan Masyarakat Adat: Penjaga Sejati Keanekaragaman Hayati


Masyarakat adat, yang telah hidup selaras dengan alam selama ribuan tahun, adalah penjaga terbaik keanekaragaman hayati di planet ini. Pengetahuan tradisional mereka, praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan, dan ikatan mendalam dengan lingkungan adalah aset yang tak ternilai. PBB menyerukan pengakuan, perlindungan, dan pemberdayaan hak-hak mereka, serta partisipasi penuh mereka dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan konservasi alam dan aksi iklim. Mengabaikan peran mereka berarti kehilangan mitra paling efektif dalam perjuangan ini.

Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemimpin, Tapi Kita Semua


Meskipun seruan PBB ditujukan kepada para pemimpin global dan pembuat kebijakan, dampak dan tanggung jawabnya meluas ke setiap individu. Dari pilihan konsumsi sehari-hari—memilih produk berkelanjutan, mengurangi limbah, mendukung bisnis yang bertanggung jawab—hingga partisipasi dalam advokasi lokal dan global, setiap tindakan kecil dapat menjadi bagian dari gelombang perubahan yang lebih besar.

Perusahaan harus berinovasi menuju model bisnis yang lebih hijau, mengurangi jejak karbon, dan mengadopsi praktik produksi yang etis. Lembaga pendidikan harus menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, membekali generasi mendatang dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi pelindung Bumi. Komunitas harus bersatu untuk melindungi dan memulihkan lingkungan lokal mereka, misalnya melalui gerakan penanaman pohon atau pembersihan sungai. Krisis iklim dan alam bukanlah masalah yang bisa ditunda, atau masalah yang bisa diselesaikan oleh satu entitas saja. Ini adalah panggilan untuk kolaborasi global, yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan setiap warga negara.

Kesimpulan:
Seruan Sekretaris Jenderal PBB di COP28 adalah pengingat yang tajam: masa depan bumi ada di tangan kita, dan kita tidak bisa lagi memisahkan krisis iklim dari krisis alam. Ini adalah momen untuk bertindak dengan keberanian, inovasi, dan solidaritas. Kita memiliki kesempatan—dan kewajiban—untuk mengubah arah kehancuran menuju pemulihan dan keberlanjutan. Mari kita jadikan seruan ini sebagai pemicu, bukan hanya untuk perubahan kebijakan di tingkat tertinggi, tetapi juga untuk perubahan fundamental dalam cara kita hidup dan berinteraksi dengan planet ini. Dengan bersatu, kita memiliki kekuatan untuk menciptakan masa depan di mana manusia dan alam dapat hidup berdampingan secara harmonis. Bagikan artikel ini untuk menyebarkan kesadaran dan mari bersama-sama menjadi bagian dari solusi. Apa langkah pertama Anda dalam menyelamatkan krisis iklim dan alam?

Comments

Integrate your provider (e.g., Disqus, Giscus) here.

Related articles

Tetap Terhubung dengan Kami!

Berlangganan newsletter kami dan dapatkan informasi terbaru, tips ahli, serta wawasan menarik langsung di kotak masuk email Anda.

Dengan berlangganan, Anda setuju dengan syarat dan ketentuan kami.