Mengapa Visa & Mastercard Menolak Hype Stablecoin untuk Pembayaran Sehari-hari? Ini Alasannya!
Visa dan Mastercard, dua raksasa pembayaran global, belum tertarik untuk merangkul stablecoin sebagai alat pembayaran sehari-hari di tahun 2026.
Dalam dunia keuangan yang terus bergejolak, stablecoin sering digembar-gemborkan sebagai jembatan antara volatilitas aset kripto dan stabilitas mata uang fiat. Dengan janji transaksi yang cepat, murah, dan global, stablecoin tampak ideal untuk pembayaran sehari-hari. Namun, di balik semua gembar-gembor tersebut, dua raksasa pembayaran global, Visa dan Mastercard, ternyata masih bersikap skeptis. Bukan karena mereka menolak inovasi, melainkan karena mereka melihat tantangan fundamental yang belum terpecahkan untuk adopsi massal stablecoin dalam transaksi ritel.
Mengapa perusahaan yang dikenal selalu berada di garis depan inovasi pembayaran ini belum "membeli" hype stablecoin untuk konsumen biasa? Mari kita selami lebih dalam alasan di balik kehati-hatian strategis mereka.
Sikap hati-hati Visa dan Mastercard bukanlah tanpa dasar. Mereka adalah tulang punggung sistem keuangan global, mengelola triliunan transaksi setiap hari di berbagai yurisdiksi. Keandalan, keamanan, dan kepatuhan regulasi adalah prioritas utama mereka.
Salah satu hambatan terbesar bagi stablecoin adalah lanskap regulasi yang masih kabur dan terfragmentasi. Setiap negara memiliki pendekatan berbeda terhadap aset kripto, termasuk stablecoin. Visa dan Mastercard beroperasi di hampir setiap sudut dunia, dan untuk mengintegrasikan stablecoin ke dalam jaringan mereka, mereka membutuhkan kerangka hukum yang jelas, konsisten, dan komprehensif secara global.
Ketiadaan regulasi yang seragam menciptakan ketidakpastian besar terkait Anti Pencucian Uang (AML), Kenali Pelanggan Anda (KYC), perlindungan konsumen, dan stabilitas keuangan. Bagi pemain sebesar Visa dan Mastercard, beroperasi di tengah ambiguitas regulasi adalah risiko yang terlalu besar untuk diambil, terutama ketika menyangkut kepercayaan miliaran pengguna mereka. Mereka tidak bisa mengambil risiko salah langkah yang berpotensi memicu denda besar atau kehilangan lisensi di pasar-pasar kunci.
Jaringan pembayaran tradisional seperti Visa dan Mastercard dirancang untuk memproses puluhan ribu transaksi per detik dengan latensi minimal. Infrastruktur stablecoin saat ini, meskipun terus berkembang, masih menghadapi tantangan dalam hal skalabilitas untuk mencapai throughput transaksi yang diperlukan untuk pembayaran harian massal.
Selain itu, masalah interoperabilitas antar berbagai jenis stablecoin dan blockchain yang berbeda juga menjadi perhatian. Bagaimana memastikan bahwa stablecoin yang dikeluarkan di satu blockchain dapat dengan mulus digunakan di platform lain atau diterima oleh pedagang di seluruh dunia tanpa gesekan? Tanpa standar universal dan solusi interoperabilitas yang kuat, mengintegrasikan stablecoin ke dalam jaringan pembayaran global yang ada akan menjadi mimpi buruk teknis dan operasional.
Nama "stablecoin" menjanjikan stabilitas, tetapi pengalaman di masa lalu, seperti depeg singkat beberapa stablecoin atau kegagalan total yang lain, telah menyoroti kerentanan yang ada. Meskipun banyak stablecoin yang didukung dengan baik oleh cadangan yang transparan, insiden tersebut telah meninggalkan noda pada reputasi kelas aset ini secara keseluruhan.
Bagi pembayaran sehari-hari, kepercayaan adalah segalanya. Konsumen harus yakin bahwa 1 stablecoin selalu bernilai 1 unit mata uang fiat yang dijanjikan. Sistem fiat yang didukung pemerintah dan bank sentral telah membangun kepercayaan selama puluhan tahun, jika tidak berabad-abad. Menggantikan atau melengkapi sistem ini dengan stablecoin membutuhkan tingkat kepercayaan dan stabilitas yang sama, jika tidak lebih tinggi, yang belum sepenuhnya terpenuhi atau terbukti.
Visa dan Mastercard sudah memiliki jaringan pembayaran yang sangat efisien, aman, dan luas. Mereka telah menginvestasikan miliaran dolar selama beberapa dekade untuk membangun infrastruktur ini, yang memungkinkan transaksi cepat, aman, dan tanpa batas di seluruh dunia. Apa keunggulan signifikan yang ditawarkan stablecoin untuk pembayaran sehari-hari yang tidak dapat ditawarkan oleh sistem mereka saat ini, atau setidaknya diadaptasi dan diintegrasikan?
Biaya transaksi mungkin menjadi argumen, tetapi Visa dan Mastercard terus berinovasi untuk menekan biaya dan meningkatkan kecepatan. Kemampuan pembayaran lintas batas juga sudah mereka tangani melalui jaringan mereka. Mengganti sistem yang bekerja dengan sangat baik dengan sesuatu yang baru membutuhkan proposisi nilai yang sangat kuat yang sulit ditemukan oleh stablecoin di ranah pembayaran ritel global.
Sikap skeptis terhadap stablecoin untuk pembayaran harian tidak berarti Visa dan Mastercard mengabaikan potensi teknologi blockchain atau aset digital. Sebaliknya, mereka sangat selektif dan berfokus pada kasus penggunaan yang menawarkan nilai nyata dan memiliki fondasi yang lebih kokoh.
Alih-alih stablecoin yang diterbitkan oleh entitas swasta, Visa dan Mastercard menunjukkan minat yang jauh lebih besar pada Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) atau tokenisasi deposit yang diterbitkan oleh bank-bank komersial di blockchain privat. Mengapa? Karena CBDC dan deposit yang ditokenisasi memiliki dukungan dan regulasi langsung dari pemerintah atau institusi keuangan yang sudah ada dan terpercaya.
Ini menawarkan tingkat stabilitas, kepastian regulasi, dan kepercayaan yang tidak dapat ditandingi oleh stablecoin swasta. Mereka melihat potensi besar CBDC untuk pembayaran grosir (B2B), pembayaran lintas batas institusional, atau sebagai fondasi untuk inovasi keuangan di masa depan. Dalam konteks ini, mereka dapat berperan sebagai penyedia infrastruktur, menghubungkan CBDC dengan jaringan pembayaran yang ada, memanfaatkan keahlian mereka dalam skala dan keamanan.
Daya tarik sebenarnya dari teknologi blockchain bagi raksasa pembayaran ini mungkin terletak pada kemampuannya untuk mengaktifkan pembayaran terprogram (programmable payments) dan smart contract. Ini adalah pembayaran yang dapat diotomatisasi untuk dieksekusi hanya jika kondisi tertentu terpenuhi, tanpa perlu perantara manusia.
Bayangkan pembayaran royalti yang terdistribusi secara otomatis, pembayaran rantai pasok yang dipicu oleh pengiriman barang, atau escrow yang sepenuhnya otomatis. Fitur-fitur ini dapat membawa efisiensi yang luar biasa pada pembayaran B2B, manajemen kas perusahaan, dan bahkan di sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang terkontrol. Di sinilah Visa dan Mastercard melihat peluang untuk meningkatkan sistem pembayaran yang ada, bukan menggantinya.
Sikap Visa dan Mastercard menggarisbawahi bahwa masa depan pembayaran digital kemungkinan besar bukan tentang revolusi total yang mengganti sistem yang ada, melainkan tentang evolusi bertahap. Teknologi blockchain dan aset digital akan diintegrasikan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan kemampuan sistem yang sudah mapan.
Ini akan membutuhkan kolaborasi erat antara inovator teknologi, institusi keuangan tradisional, bank sentral, dan regulator untuk menciptakan ekosistem pembayaran yang aman, efisien, inklusif, dan stabil.
Penolakan Visa dan Mastercard terhadap stablecoin untuk pembayaran sehari-hari memiliki implikasi signifikan. Bagi pasar kripto, ini mungkin berarti bahwa stablecoin akan tetap menjadi aset penting dalam ekosistem kripto (misalnya untuk trading, DeFi) tetapi adopsinya di dunia nyata untuk pembelian kopi atau barang kebutuhan sehari-hari mungkin akan lebih lambat atau tidak sebesar yang diantisipasi.
Bagi konsumen, ini menegaskan bahwa untuk saat ini, sistem pembayaran tradisional masih menjadi pilihan paling praktis dan tepercaya. Harapan akan "pembayaran kripto" sehari-hari mungkin perlu disesuaikan, dengan fokus pada inovasi yang lebih terintegrasi dan teregulasi, seperti CBDC, daripada stablecoin swasta.
Sikap Visa dan Mastercard terhadap stablecoin untuk pembayaran sehari-hari bukanlah penolakan terhadap inovasi, melainkan cerminan dari prioritas mereka terhadap stabilitas, keamanan, dan kepatuhan regulasi dalam skala global. Mereka melihat potensi teknologi blockchain, tetapi mereka berhati-hati dalam memilih aplikasi yang paling bertanggung jawab dan memiliki dampak terbesar. CBDC dan tokenisasi deposit, dengan dukungan institusional dan regulasi yang jelas, tampak lebih menarik bagi mereka daripada stablecoin swasta untuk adopsi massal.
Masa depan pembayaran digital akan terus berkembang, dan peran aset digital di dalamnya tidak bisa dipungkiri. Namun, bagi raksasa seperti Visa dan Mastercard, jalan menuju inovasi haruslah terukur, aman, dan terintegrasi dengan baik ke dalam struktur keuangan yang ada.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah stablecoin akan menemukan jalannya ke pembayaran harian, atau apakah CBDC dan tokenisasi deposit yang akan mendominasi? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah!
Mengapa perusahaan yang dikenal selalu berada di garis depan inovasi pembayaran ini belum "membeli" hype stablecoin untuk konsumen biasa? Mari kita selami lebih dalam alasan di balik kehati-hatian strategis mereka.
Mengapa Raksasa Pembayaran Bersikap Hati-hati? Membongkar Skeptisisme
Sikap hati-hati Visa dan Mastercard bukanlah tanpa dasar. Mereka adalah tulang punggung sistem keuangan global, mengelola triliunan transaksi setiap hari di berbagai yurisdiksi. Keandalan, keamanan, dan kepatuhan regulasi adalah prioritas utama mereka.
Tantangan Regulasi yang Belum Jelas
Salah satu hambatan terbesar bagi stablecoin adalah lanskap regulasi yang masih kabur dan terfragmentasi. Setiap negara memiliki pendekatan berbeda terhadap aset kripto, termasuk stablecoin. Visa dan Mastercard beroperasi di hampir setiap sudut dunia, dan untuk mengintegrasikan stablecoin ke dalam jaringan mereka, mereka membutuhkan kerangka hukum yang jelas, konsisten, dan komprehensif secara global.
Ketiadaan regulasi yang seragam menciptakan ketidakpastian besar terkait Anti Pencucian Uang (AML), Kenali Pelanggan Anda (KYC), perlindungan konsumen, dan stabilitas keuangan. Bagi pemain sebesar Visa dan Mastercard, beroperasi di tengah ambiguitas regulasi adalah risiko yang terlalu besar untuk diambil, terutama ketika menyangkut kepercayaan miliaran pengguna mereka. Mereka tidak bisa mengambil risiko salah langkah yang berpotensi memicu denda besar atau kehilangan lisensi di pasar-pasar kunci.
Masalah Skalabilitas dan Interoperabilitas
Jaringan pembayaran tradisional seperti Visa dan Mastercard dirancang untuk memproses puluhan ribu transaksi per detik dengan latensi minimal. Infrastruktur stablecoin saat ini, meskipun terus berkembang, masih menghadapi tantangan dalam hal skalabilitas untuk mencapai throughput transaksi yang diperlukan untuk pembayaran harian massal.
Selain itu, masalah interoperabilitas antar berbagai jenis stablecoin dan blockchain yang berbeda juga menjadi perhatian. Bagaimana memastikan bahwa stablecoin yang dikeluarkan di satu blockchain dapat dengan mulus digunakan di platform lain atau diterima oleh pedagang di seluruh dunia tanpa gesekan? Tanpa standar universal dan solusi interoperabilitas yang kuat, mengintegrasikan stablecoin ke dalam jaringan pembayaran global yang ada akan menjadi mimpi buruk teknis dan operasional.
Stabilitas dan Kepercayaan Pengguna: Lebih dari Sekadar Nama
Nama "stablecoin" menjanjikan stabilitas, tetapi pengalaman di masa lalu, seperti depeg singkat beberapa stablecoin atau kegagalan total yang lain, telah menyoroti kerentanan yang ada. Meskipun banyak stablecoin yang didukung dengan baik oleh cadangan yang transparan, insiden tersebut telah meninggalkan noda pada reputasi kelas aset ini secara keseluruhan.
Bagi pembayaran sehari-hari, kepercayaan adalah segalanya. Konsumen harus yakin bahwa 1 stablecoin selalu bernilai 1 unit mata uang fiat yang dijanjikan. Sistem fiat yang didukung pemerintah dan bank sentral telah membangun kepercayaan selama puluhan tahun, jika tidak berabad-abad. Menggantikan atau melengkapi sistem ini dengan stablecoin membutuhkan tingkat kepercayaan dan stabilitas yang sama, jika tidak lebih tinggi, yang belum sepenuhnya terpenuhi atau terbukti.
Persaingan dengan Sistem Pembayaran yang Ada
Visa dan Mastercard sudah memiliki jaringan pembayaran yang sangat efisien, aman, dan luas. Mereka telah menginvestasikan miliaran dolar selama beberapa dekade untuk membangun infrastruktur ini, yang memungkinkan transaksi cepat, aman, dan tanpa batas di seluruh dunia. Apa keunggulan signifikan yang ditawarkan stablecoin untuk pembayaran sehari-hari yang tidak dapat ditawarkan oleh sistem mereka saat ini, atau setidaknya diadaptasi dan diintegrasikan?
Biaya transaksi mungkin menjadi argumen, tetapi Visa dan Mastercard terus berinovasi untuk menekan biaya dan meningkatkan kecepatan. Kemampuan pembayaran lintas batas juga sudah mereka tangani melalui jaringan mereka. Mengganti sistem yang bekerja dengan sangat baik dengan sesuatu yang baru membutuhkan proposisi nilai yang sangat kuat yang sulit ditemukan oleh stablecoin di ranah pembayaran ritel global.
Apa yang Sebenarnya Dicari Visa dan Mastercard? Fokus pada "Nilai Nyata"
Sikap skeptis terhadap stablecoin untuk pembayaran harian tidak berarti Visa dan Mastercard mengabaikan potensi teknologi blockchain atau aset digital. Sebaliknya, mereka sangat selektif dan berfokus pada kasus penggunaan yang menawarkan nilai nyata dan memiliki fondasi yang lebih kokoh.
CBDC dan Tokenisasi Deposit: Alternatif yang Lebih Menarik?
Alih-alih stablecoin yang diterbitkan oleh entitas swasta, Visa dan Mastercard menunjukkan minat yang jauh lebih besar pada Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) atau tokenisasi deposit yang diterbitkan oleh bank-bank komersial di blockchain privat. Mengapa? Karena CBDC dan deposit yang ditokenisasi memiliki dukungan dan regulasi langsung dari pemerintah atau institusi keuangan yang sudah ada dan terpercaya.
Ini menawarkan tingkat stabilitas, kepastian regulasi, dan kepercayaan yang tidak dapat ditandingi oleh stablecoin swasta. Mereka melihat potensi besar CBDC untuk pembayaran grosir (B2B), pembayaran lintas batas institusional, atau sebagai fondasi untuk inovasi keuangan di masa depan. Dalam konteks ini, mereka dapat berperan sebagai penyedia infrastruktur, menghubungkan CBDC dengan jaringan pembayaran yang ada, memanfaatkan keahlian mereka dalam skala dan keamanan.
Peran Pembayaran Terprogram dan Smart Contract
Daya tarik sebenarnya dari teknologi blockchain bagi raksasa pembayaran ini mungkin terletak pada kemampuannya untuk mengaktifkan pembayaran terprogram (programmable payments) dan smart contract. Ini adalah pembayaran yang dapat diotomatisasi untuk dieksekusi hanya jika kondisi tertentu terpenuhi, tanpa perlu perantara manusia.
Bayangkan pembayaran royalti yang terdistribusi secara otomatis, pembayaran rantai pasok yang dipicu oleh pengiriman barang, atau escrow yang sepenuhnya otomatis. Fitur-fitur ini dapat membawa efisiensi yang luar biasa pada pembayaran B2B, manajemen kas perusahaan, dan bahkan di sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang terkontrol. Di sinilah Visa dan Mastercard melihat peluang untuk meningkatkan sistem pembayaran yang ada, bukan menggantinya.
Masa Depan Pembayaran Digital: Bukan Sekadar Stablecoin
Sikap Visa dan Mastercard menggarisbawahi bahwa masa depan pembayaran digital kemungkinan besar bukan tentang revolusi total yang mengganti sistem yang ada, melainkan tentang evolusi bertahap. Teknologi blockchain dan aset digital akan diintegrasikan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan kemampuan sistem yang sudah mapan.
Ini akan membutuhkan kolaborasi erat antara inovator teknologi, institusi keuangan tradisional, bank sentral, dan regulator untuk menciptakan ekosistem pembayaran yang aman, efisien, inklusif, dan stabil.
Dampak pada Pasar Kripto dan Konsumen
Penolakan Visa dan Mastercard terhadap stablecoin untuk pembayaran sehari-hari memiliki implikasi signifikan. Bagi pasar kripto, ini mungkin berarti bahwa stablecoin akan tetap menjadi aset penting dalam ekosistem kripto (misalnya untuk trading, DeFi) tetapi adopsinya di dunia nyata untuk pembelian kopi atau barang kebutuhan sehari-hari mungkin akan lebih lambat atau tidak sebesar yang diantisipasi.
Bagi konsumen, ini menegaskan bahwa untuk saat ini, sistem pembayaran tradisional masih menjadi pilihan paling praktis dan tepercaya. Harapan akan "pembayaran kripto" sehari-hari mungkin perlu disesuaikan, dengan fokus pada inovasi yang lebih terintegrasi dan teregulasi, seperti CBDC, daripada stablecoin swasta.
Kesimpulan
Sikap Visa dan Mastercard terhadap stablecoin untuk pembayaran sehari-hari bukanlah penolakan terhadap inovasi, melainkan cerminan dari prioritas mereka terhadap stabilitas, keamanan, dan kepatuhan regulasi dalam skala global. Mereka melihat potensi teknologi blockchain, tetapi mereka berhati-hati dalam memilih aplikasi yang paling bertanggung jawab dan memiliki dampak terbesar. CBDC dan tokenisasi deposit, dengan dukungan institusional dan regulasi yang jelas, tampak lebih menarik bagi mereka daripada stablecoin swasta untuk adopsi massal.
Masa depan pembayaran digital akan terus berkembang, dan peran aset digital di dalamnya tidak bisa dipungkiri. Namun, bagi raksasa seperti Visa dan Mastercard, jalan menuju inovasi haruslah terukur, aman, dan terintegrasi dengan baik ke dalam struktur keuangan yang ada.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah stablecoin akan menemukan jalannya ke pembayaran harian, atau apakah CBDC dan tokenisasi deposit yang akan mendominasi? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah!
Comments
Integrate your provider (e.g., Disqus, Giscus) here.
Related articles
Tetap Terhubung dengan Kami!
Berlangganan newsletter kami dan dapatkan informasi terbaru, tips ahli, serta wawasan menarik langsung di kotak masuk email Anda.