Mengapa Harga Bitcoin Terjun Bebas ke Level Terendah Dua Bulan Terakhir? Ini Analisis Mendalamnya!

Mengapa Harga Bitcoin Terjun Bebas ke Level Terendah Dua Bulan Terakhir? Ini Analisis Mendalamnya!

Harga Bitcoin anjlok ke level terendah dua bulan terakhir mendekati $58.

Ari Pratama Ari Pratama
2026-Jan-31 8 min Read
Dalam dunia mata uang kripto yang bergejolak, pergerakan harga Bitcoin selalu menjadi sorotan utama. Baru-baru ini, aset digital terbesar di dunia ini mengalami penurunan signifikan, merosot ke level terendah dalam dua bulan terakhir dan menyentuh angka mendekati $58.300. Penurunan drastis ini sontak memicu gelombang kekhawatiran dan spekulasi di kalangan investor maupun pengamat pasar. Apakah ini hanya koreksi biasa dalam siklus pasar bull, ataukah ada faktor-faktor fundamental yang lebih dalam yang sedang bermain?

Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai alasan di balik anjloknya harga Bitcoin, mulai dari tekanan makroekonomi global, sentimen geopolitik, hingga dinamika internal pasar kripto pasca-halving. Mari kita selami lebih dalam untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dan apa artinya bagi masa depan Bitcoin.

Mengapa Bitcoin Terjun Bebas? Menganalisis Faktor-faktor Utama



Penurunan harga Bitcoin tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan konvergensi dari berbagai tekanan yang saling terkait. Memahami kompleksitas ini adalah kunci untuk menavigasi volatilitas pasar kripto.

Tekanan Makroekonomi Global: Dolar AS Menguat dan Kekhawatiran Inflasi



Salah satu pendorong utama di balik penurunan Bitcoin adalah memburuknya prospek makroekonomi global. Data inflasi di Amerika Serikat yang menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan telah memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk periode yang lebih lama. Sinyal hawkish dari The Fed menyebabkan imbal hasil Treasury AS melonjak dan Indeks Dolar AS (DXY) menguat secara signifikan.

Dolar AS yang kuat secara historis seringkali berkorelasi negatif dengan aset berisiko seperti Bitcoin. Ketika investor mencari perlindungan di aset yang lebih aman dan berdenominasi dolar, permintaan untuk kripto cenderung menurun. Kenaikan suku bunga juga membuat pinjaman menjadi lebih mahal, mengurangi likuiditas di pasar, dan membuat investasi spekulatif kurang menarik.

Bayang-bayang Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah



Krisis geopolitik selalu menjadi katalisator bagi pergerakan pasar. Eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel, serta ketidakpastian seputar negosiasi gencatan senjata di Gaza, telah meningkatkan sentimen "risk-off" di pasar global. Investor cenderung menarik modal dari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah. Meskipun Bitcoin terkadang dianggap sebagai "emas digital", dalam periode ketidakpastian ekstrem, likuidasinya masih lebih tinggi dibandingkan aset tradisional yang sudah mapan.

Setelah Halving: Efek "Sell the News" dan Penjualan oleh Penambang



Peristiwa "halving" Bitcoin pada bulan April lalu, yang mengurangi imbalan penambang sebesar 50%, adalah salah satu momen paling dinanti dalam kalender kripto. Namun, alih-alih lonjakan harga pasca-halving, pasar justru menyaksikan aksi jual. Fenomena ini sering disebut sebagai efek "sell the news", di mana harga aset naik menjelang suatu peristiwa yang diantisipasi, hanya untuk kemudian turun setelah peristiwa tersebut terjadi karena investor merealisasikan keuntungan mereka.

Selain itu, para penambang Bitcoin menghadapi tekanan finansial yang signifikan setelah halving. Biaya operasional mereka (listrik, peralatan) tetap tinggi, sementara pendapatan mereka dari blok reward berkurang setengahnya. Untuk menutupi biaya ini, banyak penambang terpaksa menjual sebagian kepemilikan BTC mereka, menambah tekanan jual di pasar. Data menunjukkan bahwa penambang telah menjual lebih dari 3.000 BTC dalam beberapa minggu terakhir.

Melambatnya Arus Masuk ETF Bitcoin Spot



Peluncuran Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin spot di AS pada awal tahun ini adalah peristiwa monumental yang membuka pintu bagi investor institusional. ETF ini awalnya mendorong reli harga Bitcoin ke level tertinggi sepanjang masa. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, arus masuk ke ETF ini telah melambat drastis, bahkan beberapa di antaranya mengalami arus keluar. Melemahnya permintaan dari investor institusional melalui saluran ETF menunjukkan bahwa antusiasme awal mungkin mulai mereda, atau setidaknya, pasar telah mencerna sebagian besar dampak positifnya.

Liquidation Cascades dan Pergerakan Whales



Penurunan harga yang cepat seringkali diperparah oleh "liquidation cascades". Ketika harga turun di bawah level tertentu, posisi trading leverage (utang) secara otomatis dilikuidasi, yang berarti asetnya dijual paksa. Penjualan paksa ini memicu penurunan lebih lanjut, yang kemudian melikuidasi posisi lain, menciptakan efek domino yang mempercepat pergerakan harga ke bawah. Dalam beberapa hari terakhir, puluhan juta dolar posisi long Bitcoin telah dilikuidasi.

Selain itu, pergerakan "whales" (pemegang Bitcoin dalam jumlah besar) juga memainkan peran. Beberapa whales mungkin telah mengambil keuntungan setelah reli panjang, menambah tekanan jual. Laporan menunjukkan adanya perpindahan BTC dalam jumlah besar dari dompet institusional ke bursa, yang seringkali mengindikasikan niat untuk menjual.

Faktor Historis dan Teknis



Secara historis, bulan Mei seringkali menjadi bulan yang menantang bagi Bitcoin, dengan rata-rata kinerja negatif di banyak tahun. Dari perspektif analisis teknis, grafik Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda bearish. Munculnya "death cross" pada grafik 4-jam (di mana moving average jangka pendek memotong di bawah moving average jangka panjang) sering dianggap sebagai sinyal bearish. Indikator momentum seperti MACD dan RSI juga menunjukkan tren penurunan, mengindikasikan tekanan jual yang berkelanjutan.

Menilik Prospek Masa Depan: Akankah Bitcoin Memantul Kembali?



Meskipun sentimen pasar saat ini diselimuti kekhawatiran, penting untuk diingat bahwa volatilitas adalah bagian inheren dari pasar kripto. Koreksi adalah hal yang wajar dan sehat dalam siklus pasar bull, membersihkan leverage berlebihan dan memberikan kesempatan bagi pembeli baru.

Beberapa analis berpendapat bahwa level $58.000 hingga $60.000 adalah zona support krusial, berpotensi menjadi titik pantulan. Jika support ini tidak bertahan, level $52.000 dan bahkan $48.000 bisa menjadi target selanjutnya. Menariknya, level $69.000 yang merupakan puncak pasar bull tahun 2021, seringkali diuji ulang sebagai support dalam siklus berikutnya.

Jangka panjang, banyak pihak tetap bullish terhadap Bitcoin. Adopsi institusional terus berkembang, inovasi di ekosistem blockchain berlanjut, dan potensi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed di masa depan dapat kembali mendorong aset berisiko. Saat ini, pasar mungkin sedang memasuki fase konsolidasi atau akumulasi sebelum potensi reli berikutnya.

Kesimpulan

Penurunan harga Bitcoin ke level terendah dua bulan terakhir adalah hasil dari badai sempurna faktor makroekonomi, geopolitik, dan dinamika pasar internal. Dari suku bunga tinggi, dolar AS yang kuat, hingga dampak pasca-halving dan penjualan oleh penambang, setiap elemen berkontribusi pada tekanan jual.

Namun, bagi investor jangka panjang, koreksi ini mungkin dipandang sebagai bagian normal dari perjalanan Bitcoin yang volatil. Kunci adalah tetap tenang, melakukan riset mendalam, dan memahami bahwa pasar kripto adalah marathon, bukan sprint. Apakah Anda setuju dengan analisis ini atau punya pandangan lain? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada sesama penggemar kripto!

Comments

Integrate your provider (e.g., Disqus, Giscus) here.

Related articles

Tetap Terhubung dengan Kami!

Berlangganan newsletter kami dan dapatkan informasi terbaru, tips ahli, serta wawasan menarik langsung di kotak masuk email Anda.

Dengan berlangganan, Anda setuju dengan syarat dan ketentuan kami.